REJUNO BerMARTABAT ( BERSIH, MAKMUR, ADIL, RAPI, TAAT, AKTIF, BIJAKSANA, AMAN, TANGGUH )

Artikel

Sejarah Desa

26 Agustus 2016 15:38:09  Administrator  345 Kali Dibaca 
  • Sejarah dan Asal-Usul Awal Terbentuknya Desa Rejuno

Setiap desa sudah barang tentu memiliki sejarah dan latar belakang sendiri-sendiri sesuai dengan karakteristik dan kulturnya masing-masing yang merupakan pencerminan ciri kas dari suatu daerah. Sejarah desa atau daerah seringkali tertuang dalam dongeng-dongeng yang diwariskan secara turun temurun dari mulut ke mulut sehingga sulit untuk dibuktikan secara fakta. Dan tidak jarang dongeng tersebut dihubungkan dengan mitos tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat. Dalam hal ini desa Rejuno juga memiliki hal tersebut yang merupakan identitas dari desa ini yang akan kami tuangkan dalam kisah-kisah di bawah ini.

Dari berbagai sumber yang dapat ditelusuri dan digali tentang asal– usulnya,  desa Rejuno memiliki banyak versi cerita yang cukup bervariasi. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya tempat yang dikeramatkan ataupun kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat yang kemudian dijadikan sebuah nama.

Konon ceritanya, dahulu kala Desa Rejuno merupakan sebuah hutan belantara yang  bernama Hutan GANDOKO. Hutan ini mempunyai sebuah pertapaan yang bernama Pucang Anom. Di tempat ini ada Raksasa/Buto yang bernama Prabu BOKO dan Pandita yang bernama PANJI PANJI PATI. Pertapaan tersebut sampai sekarang sering sekali memberikan petuah/wisik kepada orang-orang dalam kesediahan.

Pada zaman dahulu Pandawa Lima dan Ibunya Dewi Kunti sedang berada di Kawasan Hutan Gandoko dan sedang beristrirahat di bawah pohon Asem. Suatu ketika Pandawa Lima bersaudara yang paling muda merasakan lapar, sehingga Brotoseno (Bima) sebagai kakak tertua pergi mencari makanan. Brotoseno pergi ke arah Timur Laut menuju Wangon Sugih. Wangon Sugih adalah sebuah tempat yang ditinggali seorang janda yang dulunya menjual daun wangon hingga menjadi kaya raya, sehingga janda tersebut dikenal dengan nama Mbok Rondo Wangon Sugih. Mbok Rondho Wangon Sugih mempunyai seorang anak yang cantik nan rupawan.

Sesampainya Brotoseno di Wangon Sugih, didapatinya Mbok Rondo Wangon Sugih yang sedang menangis. Ternyata sesaat sebelum Brotoseno mendatangi Mbok Rondo Wangon Sugih, Raksasa telah datang terlebih dahulu mencari Asok Pajek Sirah. Raksasa tersebut menunjuk anak dari Mbok Rondho untuk dijadikan tumbalnya.

“Bibi, wonten nopo kok tangisan?” (“Bibi, ada apa kok menangis?”) Tanya Brotoseno Kepada Mbok Rondo Wangon Sugih.

“Oh ngeten raden, kulo niki gadah yoga namung setunggal, niki badhe asok pajek sirah.” (“Oh begini Raden, Saya ini punya anak hanya satu dan ini mau dijadikan tumbal.”) Jawab Mbok Rondo Wangon Sugih.

“Ojo kuwatir Bibi, aku adangno wae mengko gantine aku wae sing dadi Asok Pajek Sirah” Pinta Brotoseno.

BRONTOSENO mempunyai akal dengan sanggup menjadi ganti anaknya untuk dijadikan tumbal oleh Raksasa dengan syarat dimasakkan nasi oleh Mbok Rondo Wangun sugih. Mbok Rondo Wangon Sugih pun akhirnya menyetujui kesepaktan Bersama Brotoseno dan langsung memasakkan nasi untuk Brotoseno. Dibawalah nasi pemberian Mbok Rondo Wangon Sugih untuk adiknya yang sedang menunggu di bawah pohon asem. Dewi Kunti, ibundanya Brotoseno heran darimana Brotoseno mendapatkan nasi tersebut.

“Brotoseno, kok kowe oleh sego akeh soko endi, Le?” (“Brotoseno, kok kamu dapat nasi banyak darimana, Nak?”), tanya Dewi Kunti.

“Ngene Bu, iki ijole awakku.” (Begini Bu, ini sebagai ganti diriku.”), jawab Brotoseno.

Sebenarnya Dewi Kunti tidak merestui keputusan Brotoseno itu. Namun, karena sifat Brotoseno yang keras Dewi Kunti pun menurutinya.

“Wes ngene, dongakne selamet wae aku.” (Begini, Doakan selamat saja saya.”), Pinta Brotoseno.

Pada saatnya tiba Brotoseno pergi menuju Wangon Sugih untuk menjadi santapan Raksasa. Sesampainya di Wangon sugih Brotoseno bersiap dengan bersih-bersih diri dan mandi keramas. Raksasa langsung berusaha memakan Brotoseno. Namun berkat kesaktian dari Brotoseno, Raksasa gagal memakannya. Dengan berani, ditempelenglah wajah Raksasa oleh Brotoseno hingga gigi Raksasa itu copot. Raksasa itu pun lari menuju ke sebuah Kedung Sungai untuk berkaca dengan posisi jongkok. Jejak lutut Raksasa itu sampai sekarang masih membekas di Dinding Kedung itu. Kedung itu sekarang dikenal dengan nama Kedung Gedhe atau Kedung Pengilon.

Dewi Kunti merasa cemas dengan keberadaan Raksasa PrabuBoko di Hutan Gandoko yang semakin hari semakin menyengsarakan. Dewi Kunti akhirnya menemui Permadi (Harjuno) untuk menyampaikan kecemasannya.

“Permadi, Buto iki nek ora ndang mbok sirnakno mbesok manungso ora bakal iso ngremboko, soal e iki saben sasi menungso dikolomongso karo Buto iku.” (Permadi, Raksasa ini jika tidak segera kamu sirnakan di kemudian hari nanti manuasia tidak bisa berkembang dikarenakan setiap bulan manusia dimakan oleh Raksasa itu.”) Kata Dewi Kunti.

Mendengar ucapan dari Ibundanya itu akhirnya Harjuno mengambil sikap. Saat Raksasa Prabuboko tadi sedang berkaca di Kedung Pengilon, Harjuno ingin memanahnya dengan naik ke atas Pohon Asem tempatnya beristirahat. Setelah kejadian itu Pohon Asem yang menjadi tempat harjuno memanah Raksasa itu berbuah manis untuk cabang yang mengarah timur laut dan berbuah masam biasa di cabang lainnya. Oleh karenanya tempat itu sekarang dikenal dengan nama Punden Asem Legi.

Anak panah Harjuno melesat mengenai punggung dari Raksasa. Sebetulnya tidak terlalu dalam, sehingga Raksasa mengira bahwa itu dikiranya nyamuk.

“Aduh jingklong iki.” (“Aduh, nyamuk ini.”), Kata Raksasa.

Lalu Raksasa itu melihat punggungnya dan mengetahui bahwa ternyata itu adalah anak panah. Karena mengetahui bahwa itu adalah anak panah, Raksasa itu pun teriak dan berlari meninggalkan Kedung Pengilon. Dinamakanlah hutan sekitar Kedung Pengilon tersebut dengan nama Teguhan, asal kata dari  “kok isih teguh buto iki” (“kok masih tegar raksasa ini”). Saat berlari, darah dari Raksasa Prabuboko berceceran ke tanah sehingga berwarna merah dan dinamakanlah Tanah Merah. Harjuno mengejar Raksasa itu dan dipanah lagi namun meleset dan terkena tanah sehingga pecah, lalu daerah tersebut dinamakan Padas Pecah. Raksasa itu pun terus berlari ke Kali Poh dan daerah tersebut dinamakan Desa Kali Klampok. Saat dipanah lagi Raksasa sedaang tidur berbaring di sebuah tempat sehingga Desa tersebut dinamakan Desa Bareng. Disana ada Mbok Rondho yang sedang ngawe-ngawe (melambaikan tangan) lalu dinamakan Desa Dawe. Harjuno pun terus mengejar dan memikirkan hal tersebut, lalu hutan tersebut dinamakan Sumber Galih. Hingga akhirnya Raksasa Prabuboko berhasil meninggal di hutan yang bernama Klino asal dari kata Leno karena kematian Prabuboko itu. Hutan Gandoko sekarang menjadi hutan Sumber Soko, dikarenakan muncul sumber air dari panah Harjuno hilang disana dan banyak kayu/bunga-bunga Soko yang harum baunya. Berkat Tokoh Harjuno yang begitu berjasa, akhirnya Hutan Gandoko dinamai dengan Hutan Rejuno dan sekarang dikenal dengan Desa Rejuno.

Desa Rejuno terbagi dalam beberapa wilayah yang dinamakan Dusun. Yang pertama adalah Dusun Rejuno, dinamakan Dusun Rejuno dikarenakan menjadi tempat berunding (rembugan) antara Harjuno dengan Pandita. Banyak bunga Soko hanyut di Kali (Sungai) dan asal bunga tersebut diperkirakan dari  hutan tempat bertanding Harjuno dengan Prabuboko. Karena itulah tempat tersebut dinamakan Kalisoko yang sekarang menjadi Dusun Kalisoko yaitu dusun kedua di Desa Rejuno. Lalu bediam lagi disebuah hutan disitu timbul pemikiran-pemikiran baru dari Pandita untuk menitipkan Broto Pandowo ke Negeri Wiroto, dan pergilah mereka ke Negeri Wiroto. Lalu hutan tempat perundingan (Karangan baru) tersebut dinamakan Karanganyar, sekarang menjadi Dusun Karanganyar yaitu dusun Ketiga Desa Rejuno. Dan Pandita bertapa di sebuah hutan sambil membuat pekarangan-pekarangan yang merupakan Oro-oro (lapangan) ditanami jambu, yang sekarang dinamakan Oro-oro Jambu. Tempat bertapa Pandita dinamakan Hutan Gurdo, dimana hutan tersebut banyak kayu Gurdo dan Pandita tersebut bernaung/bersandar dikayu Grodo dinamakanlah Dusun Gurdo. Sekarang Dusun Gurdo dibagi dua yaitu Dusun Gurdo Timur yang menjadi dusun Keempat Desa Rejuno dan Dusun Gurdo Barat yang menjadi Dusun Keenam Desa Rejuno. Lalu tempat bertapa Pandita berada di sebuah pekarangan yang dilingkungi kali (cabang kali) dinamakan pertapaan Capang. Sang Pandita meninggal di pertapaan Capang tersebut. Tempat makamnya dinamakan Jati Panji dikarenakan banyak pohon jati  yang rindang untuk mengubur Pandita. Pertapaan Capang dan Pesarean jati Panji berada di Dusun Gurdo Timur, sedangkan Oro-oro Jambu berada di Dusun Gurdo Barat.

Sejarah dan asal-usul Dusun Pakulan, Dusun keenam Desa Rejuno tidak berkaitan dengan sejarah awal terbentuknya Desa Rejuno. Berbeda dengan kelima Dusun yang lain dimana sejarah dan asal-usulnya serangkaian dengan Desa Rejuno. Dusun Pakulan terbentuk di Jaman Penjajahan Belanda. Saat itu Paku Alam yang berasal dari Jogyakarta mempunyai saudara laki-laki yang sudah mengikuti Belanda. Hal itu diketahui karena rumah Paku Alam ditembaki menggunakan Pelor Kencono. Pelor Kencono itu jatuh di meja, dan saat dilihat memang betul itu adalah Pelor Kencono kepunyaan saudara laki-lakinya. Sehingga kecurigaannya benar bahwa saudara laki-lakinya telah mengikuti Belanda. Paku Alam berpikir daripada dia perang dengan saudara sendiri, dia memilih untuk pergi ke Daerah ini. Oleh Karena itu Dusun ini dinamakan Dusun Pakulan yang berasal dari kata PakuAlam.

 

  • Sejarah Pemerintahan Desa Rejuno

 Sejak jaman Belanda tepatnya pada Tahun 1912, Desa Rejuno berdiri dengan sistem pemerintahan berbentuk Kelurahan yang dipimpin oleh seorang Lurah. Bentuk Kelurahan ini berjalan sampai dengan 2 periode pemerintahan hingga Tahun 1936. Saat itu Wilayah Rejuno terdiri dari 5 Dusun yaitu Dusun Rejuno, Kalisoko, Karangnyar, Gurdo Timur, dan Gurdo Barat. Kemudian berubah menjadi Desa yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa setelah memasuki pemerintahan periode ke-3 bersamaan dengan bergabungnya Dusun baru yaitu Dusun Pakulan.

Di awal pemerintahan tiap dusun dipimpin oleh seorang kamituwo yang membawahi RT/RW yang dibantu Kebayan serta lembaga lain dan juga Jogo Boyo sebagai penanggungjawab keamanan. Mereka semua menjalankan fungsinya masing-masing dengan baik. Sebagai imbalan dari pelayanan yang telah diberikan, masyarakat menyediakan lahan sawah untuk diberikan kepada mereka yaitu berupa tanah bengkok.

Sistem pemerintahan sekarang sudah banyak perubahan,Desa Rejuno di nahkodai oleh seorang Kepala Desa yang dalam pekerjaannya dibantu oleh perangkat Desa. Perangkat Desa ini terdiri dari Sekretaris Desa, Kaur Tata Usaha dan Umum, Kaur Keuangan, Kaur Perencanaan, Kasi Pemerintahan, Kasi Pelayanan, Kasi Kesejahteraan, dan Kasun-Kasun.

Dari beberapa sumber, paling tidak Desa Rejuno sudah pernah mengalami 6 kepemimpinan (2 Lurah dan 4 Kepala Desa) dalam 6 periode, yakni :

  1. Periode pertama dipimpin oleh Lurah DOSENOTh 1912 s/d 1919
  2. Periode kedua dipimpin oleh Lurah MARTODIWIRJOTh 1919 s/d 1936
  3. Periode ketiga dipimpin oleh Kepala Desa JOYODIHARDJOTh 1936 s/d 1971
  4. Periode Keempat dipimpin oleh Kepala Desa HADIPRAWITOTh 1971 s/d 1991
  5. Periode Kelima dipimpin oleh Kepala Desa SUNARJOTh 1991 s/d 2007
  6. Periode keenam dipimpin oleh Kepala Desa SENUNG BUDIARTO, SPTh 2007 s/d sekarang.

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image  
 

 Aparatur Desa

Back Next

 Sinergi Program

KEMENTERIAN DESA PPID
PORTAL DATA NGAWI JDIH
SP4AN LAPOR WEBSITE NGAWI

 Statistik

 Agenda

 Media Sosial

 Peta Wilayah Desa

 Peta Lokasi Kantor


Alamat : Jl. Raya Rejuno - Karangjati
Desa : Rejuno
Kecamatan : Karangjati
Kabupaten : Ngawi
Kodepos : 63284
Telepon :
Email :

 Statistik Pengunjung

  • Hari ini:85
    Kemarin:326
    Total Pengunjung:91.655
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:44.210.151.5
    Browser:Tidak ditemukan